Minggu, 14 Juni 2009

Tugas Penaskahan Pers 1

VISUAL
PRESENTER IN VISION


NARASI
LEAD IN : KRISIS PANGAN KINI MENGANCAM HAMPIR SLURUH PELOSOK DUNIA/TIDAK TERKECUALI INDONESIA// PENYEBABNYA ADALAH KENAIKAN HARGA PRODUK PANGAN YANG SULIT TERKENDALI SEJAK DUA TAHUN LALU DAN TERUS BERLANJUT HINGGA KIN// DAMPAK KRISIS PALING TERASA AKAN DIALAMI OLEH NEGARA-NEGARA DUNIA KETIGA//KARENA KEMAMPUAN MEMPRODUKSI BAHAN PANGAN MEREKA SANGAT TERBATAS//

VISUAL
ROLL PACKAGE
ANAK-ANAK DI NEGARA BAGIAN AFRIKA SEDANG BERKUMPUL DIRUMAH MEREKA

NARASI
…ROLL SUARA ANAK-ANAK DI NEGARA BAGIAN AFRIKA YANG KELAPARAN…

VISUAL
KANTOR FAO/LOGO FAO/DAN SUASANA PERTANIAN JAGUNG/BERAS/GANDUM/DAN GULA//

NARASI
HASIL LAPORAN FAO MENUNJUKAN/ DI TAHUN 2007 HINGGA TAHUN 2008 HARGA JAGUNG DI PASARAN DUNIA NAIK 26%/ SEDANGKAN HARGA BERAS THAILAND NAIK SEPULUH PERSEN DI TAHUN 2007 HINGGA 2008/ UNTUK KOMODITI GANDUM NAIK 50% DI TAHUN 2005 HINGGA 2007/ HANYA GULA YANG STABIL DI PASARAN DUNIA// DI TAHUN 2007 HINGGA 2008 DIPERKIRAKAN PRODUKSI GULA MENCAPAI TITIK TERTINGGI// DALAM FOOD OUTLOOK HINGGA TAHUN 2017 DIRAMALKAN OLEH FAO/ HARGA PANGAN AKAN TERUS MEROKET/ SEJALAN DENGAN HARGA MINYAK MENTAH// LONJAKAN TERSEBUT DIPICU OLEH HARGA MINYAK MAKAN SEBESAR 50%// DATA MEMPERLIHATKAN BAGAIMANA CPO MINYAK MENTAH KELAPA SAWIT DI PASAR INTERNASIONAL MENEMBUS HARGA 1.200 US$/TON//

VISUAL
J.DIOUF TENGAH DI WAWANCARA DAN GAMBAR DETAIL ANAK-ANAK SERTA ORANG TUA DI NEGARA BAGIAN AFRIKA/SUASANA DAN KEHIDUPAN MEREKA DI NEGARANYA//

NARASI
J. DIOUF/DIRJEN FAO MENGATAKAN/SECARA NALURI ORANG TIDAK AKAN DIAM KALAU KELAPARAN/MEREKA PASTI BERTINDAK/BERDASARKAN CATATAN FAO SEBANYAK 37 NEGARA MENGHADAPI KRISIS PANGAN TERMASUK INDONESIA. KEBANYAKAN DIANTARANNYA ADALAH NEGARA-NEGARA MISKIN DI BELAHAN BENUA HITAM AFRIKA. KONDISI INI JELAS J.DIOUF DAPAT MEMICU KERUSUHAN SOSIAL. WARGA DI NEGARA-NEGARA MISKIN TIDAKLAH SEBERUNTUNG DI NEGARA-NEGARA KAYA YANG MASIH MAMPU MEMBELI BAHAN PANGAN/KARENA MEREKA MENGELUARKAN 10% - 20% PENGHASILANNYA/ LAIN HALNYA DENGAN WARGA NEGARA DI NEGARA-NEGARA MISKIN ATAU NEGARA BERKEMBANG/MEREKA HARUS MENGELUARKAN PENGHASILANNYA SEBESAR 50 % - 60 % UNTUK MEMBELI BAHAN PANGAN//
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
SOT : J.DIOUF/DIRJEN FAO CODE : 00:42:00-00:50:02
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

VISUAL
NING PRIBADI TENGAH DIWAWANCARA

NARASI
KEPALA PUSAT DISTRIBUSI PANGAN DAN BADAN KETAHANAN PANGAN DEPARTEMEN PERTANIAN/NING PRIBADI/MENGATAKAN AKIBAT PERSAINGAN PENGGUNAAN PRODUK PERTANIAN PANGAN DAN ENERGI/INDONESIA JUGA TERKENA IMPOR DARI KRISIS PANGAN//PADAHAL PRODUKSI PANGAN KITA CUKUP JIKA HANYA UNTUK KONSUMSI
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
SOT : NING PRIBADI/KEPALA PUSAT DISTRIBUSI PANGAN DAN BADAN KETAHANAN PANGAN DEPARTEMEN PERTANIAN
CODE : 00:18:00-00:24:00
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

VISUAL
KANTOR FAO/LOGO FAO/ANAK-ANAK DI NEGARA BAGIAN AFRIKA SEDANG BERKUMPUL DIRUMAH MEREKA

NARASI
KENAIKAN HARGA PANGAN MENJADI ANCAMAN KRISIS PANGAN YANG KINI DIRASAKAN DI BERBAGAI DUNIA TIDAK LEPAS DARI PENGARUH PERUBAHAN KEBIJAKAN DI PASAR GLOBAL YANG DIBUAT LEMBAGA TERSEBUT//SALAH SATUNYA ADALAH KONVERSI PRODUK PANGAN ENERGI YANG MEMBUAT HARGAPANGAN DI PASAR INTERNASIONAL NAIK//KOMITE INI MENAMBAHKAN/KINI RAKYAT DI NEGARA-NEGARA SELATAN SATUNYA INDONESIA/TERPAKSA HARUS MEMBAYAR MAHAL PROGRAM IMF DAN BANK DUNIA//SEMESTINYA DUA LEMBAGA DUNIA ITU YANG MENGANGGUNG DOSA DAN KESALAH TAK TERAMPUNI//

NASKAH

Ancaman krisis pangan dunia sebenarnya telah dibicarakan sejak tahun 2006. Selama enam tahun berturut-turut konsumsi biji-bijian pangan dunia lebih besar daripada produksi dunia. Bahkan, tahun 1999 stok pangan dunia masih dapat memenuhi kebutuhan selama 116 hari, akan tetapi pada tahun 2006 hanya tinggal 57 hari. Semua ini tidak lepas dari kebijakan organisasi-organisasi dunia yang terus mendorong liberalisme perdagangan. Negara-negara berkembang yang sebagian besar di Asia dan Afrika justru terperangkap dengan kebijakan meliberalisasikan sektor pangan.

Krisis pangan kini mengancam hampir seluruh pelosok dunia, tidak terkecuali Indonesia. Penyebabnya adalah kenaikan harga produk pangan yang sulit terkendali sejak dua tahun lalu dan terus berlanjut hingga kini. Dampak krisis paling terasa akan dialami oleh negara-negara dunia ketiga. Karena kemampuan produk pangan mereka sangat terbatas.

Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan indeks harga pangan meningkat rata-rata sembilan persen pada tahun 2006 dibanding tahun sebelumnya 2005. Tahun 2007 indeks harga pangan naik menjadi 23% dibanding tahun 2006. Dalam Food Outlook hingga tahun 2017 diramalkan oleh FAO, harga pangan akan terus meroket sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak makan sebesar 50%. Data memperlihatkan bagaimana harga CPO minyak mentah kelapa sawit di pasar internasional sudah menembus harga 1.200 US$/ton. Apalagi kini penggunaan produk CPO bukan lagi sekedar untuk minyak makan saja, tetapi menjadi bahan baku biodiesel sehingga permintaan semakin besar. Komoditi sereal naik rata-rata 42% misalnya, harga jagung kini mencapai 500 US$/ton dan cenderung bertambah naik sejak Desember 2007. Jika dibandingkan dari tahun ke tahun antara Januari 2007 hingga Januari 2008 maka kenaikan harga jagung sudah lebih dari 26%.

Harga komoditi jagung pun diprediksi akan terus bergerak naik menyusul penggunaan biofeul. Hal yang sama terjadi pada komoditi kedelai. Amerika Serikat sebagai salah satu produsen terbesar di dunia mengurangi lahan kedelai karena dialihkan ke tanaman jagung sebagai bahan biofeul. Akibatnya, harga kedelai di pasaran dunia menembus 1.250 US$/ton. Di lain sisi, permintaan terhadap komoditi tersebut tetap tinggi untuk makanan ternak dan makanan manusia. Setelah beberapa komoditi pangan naik kini menyusul beras. Harga komoditi yang menjadi makanan pokok bangsa Indonesia ini di pasaran internasional naik 50%. Contohnya, harga beras Thailand broken naik 10% yang tahun lalu masih 326 US$/ton, tetapi pada bulan Maret 2008 sudah mencapai 543 US$/ton. Komoditi gandum pada periode 2007/2008 diperkirakan produksinya hanya 604 juta ton, ditambah stok periode sebelumnya sebanyak 125 juta ton. Total pasokan menjadi sekitar 729 juta ton, ini berarti total kebutuhan gandum di seluruh dunia sebanyak 619 juta ton dan stok akhir di pasaran internasionalnya tinggal 110 juta ton. Posisi tersebut merupakan titik terendah sejak tahun 1982. Pada tahun 2006/2007 stok akhir gandum mencapai 125 juta ton dan pada tahun 2005/2006 sekitar 148 juta ton. Keadaan seperti ini menyebabkan harga komoditi gandum meroket menembus angka 320 US$/ton. Padahal, pada periode 2006/2007, harga gandum berkisar 200-an US$/ton.

Dalam laporan FAO itu, satu-satunya produk pangan yang turun hanyalah gula, yakni turun 32%. Hal ini karena produksi gula di negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengalami peningkatan, sedangkan konsumsi gula relatif stabil. Bahkan, selama periode 2007/2008 diperkirakan produksi gula mencapai titik tertinggi. Ekonom senior FAO, Conception Calpe, mengatakan, “Krisis pangan dipicu karena permintaan melebihi pasokan sehingga harga –harga bahan pangan melambung.” Dirjen FAO, Jacques Diouf, memprediksi, beberapa harga bahan pangan tidak akan pernah turun. Sebab, bahan pangan berupa jagung kini tidak lagi digunakan untuk makan saja, akan tetapi untuk bahan bakar rumah tangga lingkungan (biofuel). Akibatnya stok global berkurang dan di pasar terjadi spekulasi.”

“Secara naluri orang tak akan diam kalau kelaparan, mereka pasti bertindak,” kata J. Diouf. Berdasarkan catatan FAO sebanyak 37 negara menghadapi krisis pangan termasuk Indonesia. Kebanyakan diantaranya adalah negara-negara miskin di belahan benua hitam, Afrika. Kondisi ini menurut Diouf, jelas dapat memicu kerusuhan sosial. Warga di negara-negara miskin tidaklah seberuntung di negara-negara kaya yang masih mampu membeli bahan pangan, karena mereka hanya mengeluarkan 10% - 20% penghasilannya. Lain halnya dengan warga negara di negara-negara miskin atau negara berkembang, mereka harus mengeluarkan penghasilannya sebesar 50 % - 60 % untuk membeli bahan pangan.

Selain peringatan FAO, badan dunia lainnya seperti IMF (International Moneter Found) menjadi lembaga global yang juga memperingatkan dampak buruk naiknya harga pangan bagi warga miskin. Direktur IMF, Dominique Strauss- Kahn, di Washington, dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan mengatakan, “Banyak orang mengalami kelaparan yang kemudian bisa memicu kerusuhan sosial. Selama tahun lalu menurutnya harga hasil panen yaitu beras, gandum, dan jagung melonjak tinggi. Beras misalnya, naik 70%. Alasannya jelas, panen yang kurang baik karena tanah semakin turun dan berkurang kesuburannya serta cuaca yang tidak mendukung, mengakibatkan permintaan dan bertambahnya jumlah lahan tanaman untuk bahan bakar nabati. “Harga yang lebih tinggi menyebabkan kesulitan bagi banyak orang dan menjerumuskan mereka untuk pertama kalinya ke bawah garis kemiskinan,” kata Dominique Strauss-Khan.

Komite Penghapusan Utang Negara-Negara Dunia Ketiga, justru menilai kebijakan Imperialistik Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) sebagai biang utama krisis pangan di negara-negara miskin. Dalam laporan audio visual, televisi BBC, Komite Penghapusan Utang yang berpusat di Belgia itu menegaskan, IMF dan World Bank sejak 20 tahun lalu, memaksa negara-negara selatan menerapkan kebijakan yang dibuat kedua lembaga dunia itu sehingga menyebabkan kerugian besar negara-negara tersebut. Kenaikan harga pangan menjadi ancaman krisis pangan yang kini dirasakan di berbagai negara dunia, tidak lepas dari pengaruh perubahan kebijakan di pasar global yang dibuat lembaga dunia tersebut. Salah satunya adalah konversi produk pangan ke energi yang membuat harga pangan di pasar internasional naik. Komite ini menambahkan, kini rakyat di negara-negara selatan salah satunya Indonesia, terpaksa harus membayar mahal program IMF dan Bank Dunia. Semestinya dua lembaga dunia itu yang menanggung dosa dan kesalahan tak terampuni.

“Akibat persaingan penggunaan produk pertanian untuk pangan dan energi, Indonesia juga terkena impor dari krisis pangan. Padahal produksi pangan kita cukup jika hanya untuk konsumsi,” kata Kepala Pusat Distribusi Pangan dan Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Ning Pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar